Lumajang - Aktivitas Gunung Semeru mulai meningkat meski kondisinya masih normal, namun petugas di Pos Pengamatan Gunung Semeru di Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang dihadapkan dengan kerusakan alat pendeteksi. Alat deteksi mengalami kerusakan adalah alat pemantau banjir lahar."Alat itu berupa sensor pendeteksi banjir lahar hasil kerjasama lembaga JICA dari Jepang. Jumlah alat detektor banjir yang rusak, tidak kami ketahui dengan jelas. Karena jumlah alat deteksi banjir lahar cukup banyak. Namun, kerusakan itu tidak mempengaruhi pendeteksian pantauan aktivitas vulkanik Gunung Semeru," ungkapnya saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Sabtu (6/11/2010).
Alat pendeteksi kegiatan vulknaik dengan detektor seismik melalui sensor yang dipasang di 5 titik berbeda, saat ini dijamin bisa dipergunakan secara optimal. Alat sensor pendeteksi aktivitas vulkanik, diantaranya dipasang di puncak Gunung Semeru, di Gunung Kepolo, di Gunung Lanjaran, di Besuk Tretes di atas kawasan Sumbersari dan di Besuk Bang.
"Sensor deteksi aktivitas vulkanik Semeru, sampai saat ini masih berfungsi normal. Kalau pendeteksi ini mengalami kerusakan, jelasnya kami tidak bekerja. Sejauh ini, alat deteksi semeru sensor yang dipasang di 5 titik tetap bekerja optimal," tuturnya.
Gunung Semeru, kata Suparno, tetap dinyatakan pada level Waspada dan kegiatan vulkaniknya juga masih normal. Jika terjadi aktivitas darurat terkait peningkatan vulkanik, pos pengamatan Gunung Semeru, akan bertindak cepat sesuai mekanisme pelaporan yang harus dijalankan.
"Sesuai urutan, tentunya kami akan melaporkan dulu kondisi yang terjadi ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung (PVMBG) sebelum nantinya dilakukan ditelaah. Setelah itu, barulah diberikan rekomendasi secara berjenjang sampai kepada Kepala Daerah untuk melakukan tindakan darurat," jelasnya.
Untuk kecepatan informasi jika terjadi status darurat Semeru, dikatakan Suparno, sejauh ini telah disiapkan Early Warning System yang bisa cepat memberitahukan kondisi Semeru kepada warga.
Untuk menambah keyakinan warga masyarakat akan kewaspadaan dan tanggapi dini, Suparno mengatakan pihaknya cukup apresiatif dengan dilakukannya berbagai simulasi di lereng Semeru.
"Rencana simulasi terjadi, sesuai informasi akan dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Propinsi Jawa Timur sangat baik untuk dilaksanakan. Simulasi itu bermanfaat untuk meningkatkan kewaspadaan warga dan melatih mobilisasi warga, jika terjadi ancaman bahaya semeru. Terutama, untuk menentukan titik pengungsian ke wilayah aman," tandasnya.
Kawasan bahaya erupsi Semeru, telah ditetapkan di sepanjang DAS Besuk Kembar, Besuk Bang, Besuk Kobokan dan Besuk Sat.
"Hanya saja untuk kawasan bahaya Semeru, terlebih dulu harus dilihat tipe gunung api dan juga wilayah topografinya. Dari pemetaan wilayah bahaya yang telah ditetapkan, wilayah pemukiman paling berbahaya di kawasan Rowobaung dan Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, termasuk di sepanjang lereng selatan Semeru," pungkasnya.
sumber: detik.com


No comments:
Post a Comment