Jakarta - Merapi dan sosok Mbah Maridjan tidak bisa dipisahkan. Kakek berusia 82 tahun ini, hampir sepertiga hidupnya dihabiskan untuk 'membaca' Merapi. Meski tidak bersekolah tinggi, kemampuannya melihat gejala alam Merapi tak kalah dengan guru besar atau profesor."Walau tidak berpendidikan, pengamalan empirik lebih dari profesor. Dia bisa memformulasikan dengan melihat gejala alam, mulai dari angin, gerak hewan dan lainnya," kata Rektor UII Edy Swandi Hamid saat dihubungi detikcom, Kamis (28/10/2010).
Pihak UII menggelar acara khusus untuk Mbah Maridjan. Kebetulan putra Mbah Maridjan juga menjadi karyawan UII. Namun lebih daripada itu, UII dan Mbah Maridjan telah menjalin komunikasi sejak 10 tahun lalu. UII ikut membantu pendirian masjid di dekat rumah Mbah Maridjan.
"Pengamatan-pengamatan gejala alam bisa dipertanggungjawabkan. Itu diperoleh dari pengalaman," imbuh Edy.
Sosok Mbah Maridjan pun dinilai patut diteladani karena komitmennya. Dia memegang tugasnya hingga akhir hayat. Mbah Maridjan, lanjut Edy, saat peristiwa awan panas itu bahkan juga meminta agar warga turun.
"Dia memegang amanah yang dia emban," imbuhnya.
Sosok Mbah Maridjan pun dinilai sebagai pribadi yang ikhlas. Meski menjadi bintang iklan, namun uangnya dia gunakan untuk masyarakat sekitar, dalam hal ini membangun masjid.
"Dia memang orang yang taat beribadah," tutup Edy.
Mbah Maridjan ditemukan tewas di dapur rumahnya pada Rabu (27/10) dalam posisi sujud. Mbah Maridjan memilih menetap di rumahnya di Desa Kinahrejo, saat keluarganya mengungsi. Awan panas dari Merapi, gunung yang dijaganya pun merenggut nyawanya.
[sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/10/28/120218/1477408/10/mbah-maridjan-dan-gelar--profesor--merapi]


No comments:
Post a Comment