Jakarta - Kurang tepat jika Mbah Maridjan disebut sebagai penjaga Gunung Merapi. Tugas Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi adalah mempersiapkan ritual yang sudah menjadi tradisi Keraton Yogyakarta."Aktivitas Merapi tidak ada hubungannya dengan tugas dia. Tugas juru kunci Merapi itu sebetulnya memimpin dan mempersiapkan acara ritual yang merupakan tradisi di sana," ujar Sri Sultan Hamengkubowono X kepada wartawan di kantor Kecamatan Pakem, Jl Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, Rabu (3/11/2010).
Sebagaimana diberitakan, Gunung Merapi berada di jalur kosmologis penting dalam kultur Jawa. Gunung api aktif itu berada dalam satu poros Utara-Selatan Keraton Yogyakarta dan Laut Selatan atau Samudera Hindia.
Hubungan magis dan historis Gunung Merapi dengan Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kemudian menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah bergabung dengan Republik Indonesia itu diwakili dengan kehadiran Mbah Maridjan.
Pria 83 tahun yang ditemukan wafat dalam posisi sujud di dapur kediamannya pada Rabu (27/10) sekitar pukul 05.00 itu menjadi juru kunci Gunung Merapi. Posisinya itu didapatkan berdasarkan amanah yang dia terima dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ayahanda Sultan Hamengkubuwono X yang kini memegang tampuk Keraton Yogyakarta dan DIY. Diapun mendapat gelar Mas Penewu Surakso Hargo.
Gunung Merapi dipercaya sebagai pusatnya kerajaan mahluk ghaib di Tanah Jawa. Penempatan Juru Kunci itu dipercaya sebagai perutusan untuk menjaga harmoni hubungan antara kerajaan ghaib dan kerajaan manusia (Jawa). Antara manusia dan alam semesta.
Secara periodik, sang juru kunci memimpin upacara adat atau ritual tradisional di puncak atau lereng Merapi. Ritual itu biasanya diadakan bersamaan dengan peringatan pengukuhan Sultan Yogyakarta.
[sumber: http://nasional.inilah.com/read/detail/942922/lho-sultan-tak-akui-mbah-maridjan-penjaga-merapi]

No comments:
Post a Comment