Di Bali, mereka membicarakan hubungan demokrasi dengan perdamaian serta stabilitas.
Pemimpin dan perwakilan dari 71 negara malam ini akan tiba di Bali untuk menghadiri Bali Democracy Forum (BDF) III. Forum yang akan dibuka secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Kamis 9 Desember 2010, akan mengetengahkan tema hubungan demokrasi dengan perdamaian serta stabilitas.
Bersama-sama dengan SBY, Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Myung-bak juga akan mengetuai forum ini. Besok, Kamis, 9 Desember 2010, SBY akan membacakan pidato yang menandakan dibukanya forum yang diadakan di Nusa Dua Bali ini.
Selain SBY dan Presiden Korsel, sejumlah pemimpin seperti Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao, dan Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darussalam turut menghadiri acara ini. Australia dan Iran mengutus menteri luar negeri masing-masing untuk forum itu.
“Ditinjau dari jumlah peserta dan kehadiran pejabat tinggi, kegiatan BDF III pada tahun ini meningkat secara signifikan. Kegiatan BDF I tahun 2008 dihadiri oleh 40 negara peserta dan peninjau, sedangkan BDF II tahun 2009 dihadiri oleh 48 negara peserta dan peninjau,” demikian pernyataan Kementrian Luar Negeri Indonesia (Kemlu) di Bali, Rabu 8 Desember 2010.
Forum ini akan membahas keterkaitan demokrasi dengan perdamaian serta melihat bagaimana pembangunan dapat mendorong proses perdamaian. Peserta Forum akan bertukar pandangan dan pengalaman mengenai cara mencegah terjadi dan berkembangnya konflik dalam sistem demokrasi sehingga dapat menciptakan stabilitas politik yang berkesinambungan.
Dalam sesi interaktif yang akan dilakukan pada hari kedua, para wakil negara peserta BDF akan membahas bagaimana sistem demokrasi membantu mencegah terjadi dan meluasnya konflik dengan kekerasan, bagaimana demokrasi dan pembangunan ekonomi menjadi hal penting untuk peace-building.
“Tujuan dari BDF pada pokoknya adalah untuk menciptakan forum kerjasama regional yang mendorong pembangunan politik, melalui dialog dan pertukaran pengalaman, guna memperkuat institusi demokrasi di kawasan,” ujar pernyataan Kemlu.
“Selain itu juga untuk memulai suatu proses pembelajaran dan pertukaran pengalaman di antara negara di kawasan sebagai suatu strategi untuk mencapai terpeliharanya perdamaian, stabilitas dan kemakmuran di kawasan Asia dan sekitarnya,” lanjut Kemlu lagi.
Bersama-sama dengan SBY, Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Myung-bak juga akan mengetuai forum ini. Besok, Kamis, 9 Desember 2010, SBY akan membacakan pidato yang menandakan dibukanya forum yang diadakan di Nusa Dua Bali ini.
Selain SBY dan Presiden Korsel, sejumlah pemimpin seperti Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao, dan Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darussalam turut menghadiri acara ini. Australia dan Iran mengutus menteri luar negeri masing-masing untuk forum itu.
“Ditinjau dari jumlah peserta dan kehadiran pejabat tinggi, kegiatan BDF III pada tahun ini meningkat secara signifikan. Kegiatan BDF I tahun 2008 dihadiri oleh 40 negara peserta dan peninjau, sedangkan BDF II tahun 2009 dihadiri oleh 48 negara peserta dan peninjau,” demikian pernyataan Kementrian Luar Negeri Indonesia (Kemlu) di Bali, Rabu 8 Desember 2010.
Forum ini akan membahas keterkaitan demokrasi dengan perdamaian serta melihat bagaimana pembangunan dapat mendorong proses perdamaian. Peserta Forum akan bertukar pandangan dan pengalaman mengenai cara mencegah terjadi dan berkembangnya konflik dalam sistem demokrasi sehingga dapat menciptakan stabilitas politik yang berkesinambungan.
Dalam sesi interaktif yang akan dilakukan pada hari kedua, para wakil negara peserta BDF akan membahas bagaimana sistem demokrasi membantu mencegah terjadi dan meluasnya konflik dengan kekerasan, bagaimana demokrasi dan pembangunan ekonomi menjadi hal penting untuk peace-building.
“Tujuan dari BDF pada pokoknya adalah untuk menciptakan forum kerjasama regional yang mendorong pembangunan politik, melalui dialog dan pertukaran pengalaman, guna memperkuat institusi demokrasi di kawasan,” ujar pernyataan Kemlu.
“Selain itu juga untuk memulai suatu proses pembelajaran dan pertukaran pengalaman di antara negara di kawasan sebagai suatu strategi untuk mencapai terpeliharanya perdamaian, stabilitas dan kemakmuran di kawasan Asia dan sekitarnya,” lanjut Kemlu lagi.
[sumber: vivanews,com]
No comments:
Post a Comment