JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diperkirakan tetap akan melakukan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II. Meskipun, dalam rapat kabinet di Istana Bogor kemarin, Presiden seperti disampaikan salah satu orang terdekatnya, Sudi Silalahi, meminta para menteri tetap bekerja tanpa terpengaruh isu reshuffle yang gencar akhir-akhir ini.“Saya yakin tetap akan ada reshuffle. Ini sudah ditegaskan SBY sejak tahun 2009 lalu bahwa dalam setahun akan ada evaluasi sampai tahapan reshuffle kabinet,” kata analis politik Charta Politika Yunarto Wijaya kepada okezone, Jumat (22/10/2010).
Dia menambahkan, pernyataan SBY sebagaimana disampaikan Sudi kemarin adalah hal biasa sesuai dengan gaya kepemimpinannya, yaitu muncul sebagai penetralisir jika ada polemik.
Menurut Yunarto, ada tiga skenario reshuffle yang mungkin dilakukan SBY. Pertama dan yang paling aman adalah menarik menteri partai tertentu dan menggantinya dengan calon dari partai yang sama sehingga tidak mengganggu proporsi kursi anggota koalisi di kabinet.
Kedua, merampingkan koalisi tambun yang terbukti tak efektif dengan mengurangi jatah kursi parpol tertentu atau sekaligus mengeluarkannya dari koalisi.
“Ketiga, reshuffle berdasarkan penilaian kompetensi yang diukur secara internal melalui Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan eksternal yaitu survei, lalu membentuk zakken (kabinet para ahli) tanpa mempedulikan proporsi bagi-bagi kursi,” katanya.
Yunarto memperkirakan, SBY hanya akan memilih skenario pertama dan kedua. Pasalnya pilihan ketiga terlalu ekstrem, karena tidak sesuai dengan gaya kepemimpinan SBY selama ini.
Ditanya mengenai menteri yang layak diganti, Yunarto menunjuk Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar dan Menkominfo Tifatul Sembiring. Dia menilai kinerja Patrialis dan Tifatul banyak memicu kontroversi yang merugikan citra Presiden.
[sumber: http://news.okezone.com/read/2010/10/22/339/385150/3-skenario-reshuffle-kabinet]

No comments:
Post a Comment